MAN 2 CIREBON

Jalan Merdeka No. 1 Desa Babakan Ciwaringin Cirebon

MANTAP KEREN UNGGUL (MANKU)

Ceritaku di Aceh

Selasa, 12 September 2017 ~ Oleh humas9 ~ Dilihat 1325 Kali

Dalam liburan kenaikan kelas kemarin, kami mengikuti kegiatan PIRN (Pekan Ilmiah Remaja Nasional). Kegiatan ini dilaksanakan di SMA Negeri Modal Bangsa (MOSA), Aceh Besar. Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Aceh. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 9-16 Juli 2017.

Kami sampai di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda pada tanggal 9 Juli, di hari yang sama kami melakukan registrasi peserta. Setelah melaksanakan registrasi kami beristirahat di kamar masing-masing sampai malam tiba.

Di malam tanggal 9 Juli 2017, panitia mengadakan acara Ice Breaking sebagai pembuka awal PIRN 2017 Aceh. Pada acara tersebut, kami diajari Tepuk LIPI Pasti dan Tepuk PIRN. Setelah diajari tepuk LIPI pasti, panitia meminta beberapa orang peserta untuk maju dan mengulangi tepuk tersebut dengan baik dan tepat. Saya pun maju sebagai peserta untuk mengulangi tepuk LIPI pasti.

Saat di depan peserta yang lainnya, kami ditanya nama dan asal daerah, 2 orang pertama yang ditanyakan daerah asalnya menjawab Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan, maka dari itu, ketika saya ditanyakan nama dan daerah asal, Saya menjawab “Rijal, Cirebon, Korea Selatan”, seketika keheningan dalam ruangan pun pecah karena jawaban dari saya. Ketika mengulangi LIPI pasti saya melakukannya dengan baik dan mendapatkan gelang ekslusif LIPI PIRN 2017 Aceh. Mulai dari saat itulah peserta lain memanggil saya dengan sebutan ‘Korea’, ‘Oppa’, ‘Kim Jong Un’ dan lain-lain.

Keesokan harinya, diadakan upacara pembukaan, dengan penampilan-penampilan tarian tradisional dari SMAN Modal Bangsa Aceh. Dan hari itu juga merupakan hari pertama pembelajaran, saya mendapatkan kelas Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi (IPATek) 1. Dengan didampingi Dr. Anggoro Tri Mursito sebagai Instruktur kelas yang memberi materi kepada kami. Di hari itu juga, kami mulai membahas apa itu KTI, cara menulisnya, metode penelitian yang baik dan hal lainnya.

Pada pertemuan sore hari, kami mulai membagi kelas menjadi 6 kelompok, yang mana setiap kelompok beranggotakan kurang lebih 8 orang. Setelah dibagi kelompok kami merumuskan penelitian apa yang akan kami lakukan. Dan kelompok saya mendapatkan bagian untuk mengklasifikasi air dan memanfaatkan tulang Ikan Tuna. Setelah kami mengetahui tema penelitian yang akan kami lakukan, kami kemudian mendiskusikan inti penelitian yang akan kami lakukan dan mempersiapkan diri untuk melaksakan penelitian lapangan keesokan harinya.

Keesokan harinya, kami melakukan penelitian lapangan menuju pantai Lhok Seudu, di mana sebelumnya kelompok kami dibekali pH meter dan alat pengukur daya hantar listrik, namun karena kami tidak dibekali cara penggunaannya, kami kesulitan dalam mengambil data di lokasi, maka dari itu kami hanya mengambil sampel air laut tersebut dan kami uji di labolatorium.

Selanjutnya kami melakukan uji coba di labolatorium, dan ternyata kami telah dibekali tulang ikan untuk kami manfaatkan. Setelah mencoba mengamati dan mempertimbangkan bahan yang kami miliki, kami memutuskan untuk fokus pada satu penelitian saja yakni pemanfaatan tulang Ikan Tuna. Kamipun memberikan sampel air yang kami punya kepada kelompok yang melakukan percobaan pembuatan absorben untuk menetralkan ph suatu zat cair.

Tulang Ikan Tuna yang kami miliki, pertama-tama kami keringkan dengan memanaskannya pada suhu sekitar 2000C– 4000C, setelah kering kami menumbuknya sampai halus dan menjadi tepung tulang ikan. Setelah menjadi tepung tulang ikan kami berinisiatif untuk membuatnya menjadi suplemen penambah kalsium, namun karena kurangnya waktu dan alat yang kurang memadai, maka kami harus mengurungkan niat untuk membuat suplemen tersebut. Namun kami rasa tepung tulang ikan pun cukup bermanfaat karena mengandung protein yang cukup dan dapat juga dimanfaatkan menjadi pupuk.

Setelah selesai dengan penelitian kami dalam pemanfaatan tulang ikan, kami mulai fokus terhadap Karya Tulis Ilmiah kami mengenai penelitian tersebut. Waktu kami manfaatkan sebaik mungkin dalam mengerjakan KTI, dengan membagi tugas penulisan kepada setiap anggota kelompok. Dan Alhamdulillah, KTI kami dapat selesai tepat waktu dan kami pun hanya tinggal fokus untuk mempresentasikan hasil penelitian kami.

Setelah selesai dengan penelitian dan KTI, tanggal 14 Juli 2017, kami mempresentasikan hasil dari penelitian kami di depan kelas. Dengan sebagian besar menggunakan bahasa inggris, alhamdulillah kami dapat mempresentasikannya dengan cukup lancar dan baik, dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh audiens dengan cukup baik pula. Dan setelah semua kelompok mempresentasikan hasil penelitian mereka, kami pun sudah merasa bebas tanpa tekanan setelah kurang lebih 4 hari meneliti terus menerus dari pagi hingga malam.
Keesokan harinya kami melaksanakan Field Trip sebagai refreshing dari tekanan yang telah kami alami. Kami mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Museum Tsunami, dan Pantai Lampuuk Lhok-Nga. Setelah melaksanakan Field Trip kami harus beristirahat karena malam harinya akan diadakan acara penutupan.

Dalam acara penutupan, diumumkan kelompok dan siswa terbaik dari setiap kelas. Sayang sekali, kelompok kami dan saya sendiri tidak menjadi salah satu diantara mereka. Dari setiap provinsi pun diminta untuk menampilkan keseniannya masing-masing, dan dari Jawa Barat sendiri menampilkan Tari Jaipong. Bagitupun, setiap kelas diminta untuk menunjukkan yel-yel masing-masing, dan Alhamdulillah, dengan sedikit improvisasi dan dengan bermodalkan ketenaran saya sebagai ‘orang korea’ kelas kami mendapatkan pemenang sebagai kelas pemenang lomba yel-yel, yang mana hal ini tentunya menjadi obat tersendiri setelah gagal menjadi kelompok maupun siswa terbaik. Dan untuk Bapak Dr. Anggoro pun, hal ini menjadi pencapaian tersendiri dimana beliau berhasil memenangkan lomba yel-yel dua tahun berturut-turut.

Setelah acara penutupan, kami berkumpul bersama untuk yang terakhir kalinya, bercanda dan bercerita bersama di kantin, tempat yang memang biasanya mengumpulkan kami. Kami merasakan kesedihan yang cukup berat ketika harus melepas teman-teman yang selama ini senantiasa bersama dalam susah dan senang, bekerja bersama, berfikir bersama, meneliti bersama, namun semuanya terhenti di hari itu. Dan kami semua berjanji meskipun tidak bersama lagi dalam satu tempat, kami tidak akan melupakan satu sama lain, juga akan selalu mengenang kebersamaan yang tidak terlupakan ini.

Dan keesokan harinya, kami saling berpisah dan kembali ke daerahnya masing-masing, meninggalkan SMAN Modal Bangsa dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang sangat berkesan dan memberikan pengalaman yang sangat berharga dan terlupakan dalam hidup kami. Terima kasih MOSA, Terima kasih Aceh, Terima kasih PIRN, Terima kasih LIPI, dan tentunya Terima kasih KIR MAN 2 Cirebon, khususnya Bu Hilyatul Auliya, M.S.I yang sudah bekerja keras demi memberikan kami pengalaman yang luar biasa. SALAM GENERASI SAINS INDONESIA!!!. (Arrijal Wahid Arief peserta PIRN 2017 Aceh)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. H. MUHAEMIN, M.Ag

Assalamu'alaikum Wr.Wb Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT beserta Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah memberikan karunia dan…

Selengkapnya