MAN 2 CIREBON

Jalan Merdeka No. 1 Desa Babakan Ciwaringin Cirebon

MANTAP KEREN UNGGUL (MANKU)

NYANTRI NING KEBON MELATI Oleh: Zaeni Usman XII IBB 2  

Senin, 23 Oktober 2017 ~ Oleh humas9 ~ Dilihat 349 Kali

 

Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai ciri khas tersendiri, berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren dikenal sejak zaman wali songo, ketika itu sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di Ampel Surabaya, menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Pesantren ampel merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di tanah air, termasuk di Cirebon.

Cirebon terkenal dengan sebutan kota wali, karena di Cirebon terdapat banyak waliullah. selain kota wali, Cirebon juga di juluki dengan kota santri. Karena, terdapat banyak pesantren di Cirebon. Termasuk salah satunya Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.    

Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon didirikan tahun 1127 H / 1705  M oleh generasi ke 7 (tujuh) dari syekh Syarif Hidayatullah yang bernama Pangeran Jatiraga (kiai jatira) bin kyai Abdulatif bin Pangeran Welang satu bin Pangeran Welang dua bin Pangeran butat bin Pangeran Welang satu bin Pangeran Pasarrean bin Syekh Syarif Hidayatullah. Awalnya Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon hanya satu, yaitu Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin. Pondok ini merupakan pondok tertua di Babakan Ciwaringin. Seiring perkembangan dari masa ke masa, jumlah pondok pesantren di desa ini semakin bertambah, sekarang terdapat lebih dari 40 Pondok Pesantren. Salah satunya Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid.

Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid dibangun pada tahun 2004 atas usulan K.H. Muhammad (Akang), selaku pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu Al islamy. Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid masuk dalam naungan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al islami yang termasuk dalam yayasan Tunas Pertiwi. Akang menunjuk K. Syafii Atsmari (menantu Akang) yang menikah dengan Nyai Yayah Mariatul Qibtiyah (anak pertama Akang) sebagai pengasuh Pondok Pesantren Kebon Melati Al-jadid.

Nama Al Jadid diambil karena, dulu sebelum Akang mendirikan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al islamy bersama istrinya Nyai Hj Masriyah Amva. Terlebih dahulu akang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Kebon Melati lama, yang ditunjuk Oleh K.H. Muhammad Sanusi (Mbah Sanusi), murid plus adik ipar K.H Amin sepuh. Pondok Kebon Melati lama sudah berganti menjadi Pondok Pesantren Assanusi. Oleh karena itu, setelah Akang mendirikan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al islami, Akang Berinisiatif membangun Pondok Pesantren Kebon Melati baru. Karena  baru, maka di gunakanlah kata “Al Jadid” yang bermakna “baru”. Sehingga menjadi Kebon Melati Al Jadid.

Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid mempunyai kriteria 2 perintah dan 9 larangan. Kriteria 2 perintah 9 larangan itu sudah ada sejak Pondok Pesantren Kebon Melati lama, yang di cetuskan oleh Mbah Sanusi. Sehingga sudah tak aneh lagi jika melihat kriteria tersebut ada di Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid, Kebon Jambu Al islamy, dan Assanusi. Karena memang sejarahnya sama, yaitu dari Mbah Sanusi.

Dua perintah tersebut adalah: Harus sungguh-sungguh mengaji, supaya cepat pandai, dan harus sungguh-sungguh sholat berjamaah, supaya kelakuan baik dan benar.

Sembilan larangannya adalah: Tidak boleh banyak jajan, tidur, keluyuran, melihat tontonan, ikut dalam permainan, jambulan (lepas peci) dan berambut gondrong, sering pulang, pindah sebelum 7 (tujuh) tahun, dan tidak boleh boyong/keluar sebelum pandai.

Selain kriteria diatas, juga terdapat peraturan lain, yaitu peraturan sholat berjamaah dan mengaji. Di antaranya: Sebelum waktu sholat, harus bersiap-siap di masjid, minimal 15 menit sebelum adzan, pakaian harus rapi, memakai kopiah hitam, harus mengikuti wiridan / dzikir bersama imam, melakukan sholat sunah qobliyyah dan ba’diyyah, mengaji di tempat yang telah ditentukan sesuai tingkatan masing-masing, dan harus mengaji meskipun belum / tidak paham.

Kegiatan sehari-hari di Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid cukup padat, sama halnya dengan Pondok Pesantren lain. Kegiatan berkala di Pondok Pesantren Kebon Melati yaitu : Hari Jum’at melaksanakan tahlil, sholawat, marhaban dan khitobahan, ziarah, Jum’at bersih (ro’an), dan seni bela diri Pencak Tunggal Serba Guna (PTSG). Sabtu malam di isi dengan pengajian Kitab Tafsir Munir (karangan Syaikh Muhammad Nawawi Al jawi) di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al islami. Hari Selasa di isi dengan kegiatan ekstrakulikuler hadroh dan muhafadzoh.

Sistem pengajian di Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid di mulai dari tingkat  (kelas) SP (santri persiapan) / Al I’dad,  sampai tingkat 6 (pengurus), mempunyai sistem pengajian yang sama, yaitu sistem pengajian pondok dan sistem pengajian madrasah.

Di Pondok Pesantren Kebon Melati Al Jadid terdapat sebuah metode pengajian unik. Metode pengajian tersebut di namakan Metode Miftakhul Ulum, metode ini berasal dari Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur. Metode ini dikaji pada tingkat santri persiapan (SP) / Al I’dad. Metode ini bertujuan agar santri bisa membaca dan menguasai kitab kuning dengan lancar. Di dalam metode tersebut bukan hanya mengaji kitab saja, melainkan terdapat banyak nadzoman berbahasa Arab dan Indonesia yang dinyanyikan dengan lagu anak-anak, sholawatan, dangdutan, sampai lagu pop pun ada, membuat mengaji santri lebih bersemangat. Bahkan banyak permainannya dalam metode ini, membuat santri tidak booring mengajinya.

Menjadi santri itu bukan hal yang biasa. Mengapa bisa begitu?, karena, santri itu harus bisa super sabar. Loh kok bisa? loh ya iya dong, santri itu harus bisa hidup prihatin, harus bisa menahan cobaan. seperti uang kiriman telat, diuji dengan berbagai penyakit, mandi ngantri, dan lain lain. Semua dijalani dengan sabar. Memang sudah lumrah (umum) istilah ngantri itu, karena ngantri sudah menjadi ciri khas bagi santri, bahkan ada yang bilang santri itu kepanjangan dari “apa saja serba ngantri”. Biasanya santri baru itu tidak asing dengan yang namanya penyakit gatal-gatal, gasruk, cengkreng, dan lain lain. Memang benar kata nenek moyang, jika santri belum terkena gatal, berarti belum di terima menjadi santri, atau belum resmi menjadi santri.

Patut kita syukuri, menjadi santri itu, karena bisa menjauhkan kita dari pergaulan bebas. Memang saat ini sangat marak pergaulan bebas di kalangan remaja, membuat tidak asing lagi di telinga kita, seperti; kenakalan remaja, sex bebas, narkoba, dan lain lain. Dengan mondok ini, bisa menjauhkan kita dari pergaulan bebas, yang di isi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Memang, dengan tidak mondok juga bisa menjauhkan kita dari pergaulan bebas, dengan mengadakan kegiatan bermanfaat juga. Tapi, jika di pondok itu kan bisa menambah wawasan kita tentang agama lewat pengajian-pengajian. Jadi ada nilai plusnya juga.

Jadi santri itu harus hidup prihatin, supaya nanti apa yang kita inginkan untuk masa depan bisa tercapai. Benar kata peribahasa “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Banyak santri sukses itu awalnya hidup prihatin, kita ambil contoh seperti Imam Nachrowi, yang dulunya waktu di Pondok Pesantren suka minum di air sumur, yang diyakininya air yang barokah dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan sekarang beliau menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga (MENPORA), hebat kan. Walaupun kita di ajar untuk hidup prihatin, tapi kita harus semangat, jangan takut nanti kita tidak jadi apa-apa nantinya. Optimis, jangan pesimis. Karena semua berawal dari nol, tidak bisa ujug-ujug langsung sukses, tidak bisa. Semua itu butuh proses, dan prosesnya itu di mulai dari nol.

Mencari ridho guru / ngalap barokah adalah hal yang penting bagi santri, karena, jika guru ridho, insya allah ilmu yang kita pelajari akan barokah di masyarakat nanti. Oke, jadi pada intinya, kita sebagai santri harus bisa sabar, perbanyak mencari barokah / ridho guru, semagat dalam belajar, dan optimis. Agar semua yang kita inginkan untuk masa depan bisa tercapai dan barokah. Makanya, ayo mondok agar hidup kita barokah.

Satu lagi, saya punya motto “menggapai impian, hadapi rintangan, untuk kemenagan”. Ya, jika ingin tercapai impian kita, maka kita harus bisa hadapi rintangan, agar bisa meraih kemenangan.

 

Pp Kebon Melati Pp Babakan Ciwaringin Cirebon Hari Santri

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. H. MUHAEMIN, M.Ag

Assalamu'alaikum Wr.Wb Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT beserta Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah memberikan karunia dan…

Selengkapnya