MAN 2 CIREBON

Jalan Merdeka No. 1 Desa Babakan Ciwaringin Cirebon

MANTAP KEREN UNGGUL (MANKU)

Bertani di Pondok Azziyadah Oleh: Binti Khurun ‘Ain Ashafa, XII Bahasa 2

Selasa, 24 Oktober 2017 ~ Oleh humas9 ~ Dilihat 806 Kali

 

Pesantren merupakan sistem pendidikan agama Islam tertua sekaligus merupakan ciri khas yang mewakili Islam tradisional Indonesia. Munculnya pondok pesantren berkaitan dengan proses islamisasi yang dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya melalui perdagangan, perkawinan, kesenian, dan pondok pesantren.

Pada zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran terpenting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang berpusat di Surabaya, yakni pesantren yang didirikan olehsunan ampel. Merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di seantro tanah air, termasuk Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon didirikan sekitar tahun 1127/1705M. Oleh Pangeran Jatiraga (Kyai Jatira) yang merupakan generasi ke-7 (tujuh) dari Syeikh Syarif Hidayatullah. Pada mulanya, pondok pesantren Babakan Ciwaringin hanya ada satu, yaitu pesantren Pondok Gede Raudhatut Tholibin dan lambat laun berkembang pesat, hingga sekarang terdapat lebih dari 40 pesantren, salah satunya Pondok Pesantren Azziyadah.

Pondok Pesantren Azziyadah terletak di Jalan Merdeka Gang Semboja No.2 Babakan Utara Komplek Raudhatut Thalibin. Didirikan pada tanggal 22 Februari 1982 dengan pengasuhnya bernama KH.’Asymawi  Kang As) dan Ny. Hj. Saodah.

Oleh masyarakat Babakan, Kang As dijuluki sebagai ahlinya Ilmu Nahwu. Hingga marak santri dari luar yang mengaji kepada beliau, semakin hari semakin bertambah, sehingga bangunan yang saat itu ditempati tidak memadai, lalu dibangunlah sebuah pondok pesantren dengan nama Azziyadah yang berarti ‘tambahan’, karena santri yang mengaji semakin bertambah juga tempat yang dibangun untuk aktifitas mengaji. Itulah asal muasal penamaan Pondok Pesantren Azziyadah dan harapan besar beliau, bertambah pula ilmu dan barakah yang didapat.

Mengaji di pondok pesantren merupakan hal yang wajib, terutama yang paling khas kesalafaanya adalah pengajian kitab kuning. Tapi di Pesantren Azziyadah, ada satu hal yang berbeda dari pesantren pada umumnya, yaitu rutinitas bertani yang diwajibkan bagi santri putera. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi masyarakat dan kalangan santri.

Masyarakat Babakan menjuluki Kang As dengan kyai petani, setiap hari beliau pergi ke sawah untuk memantau keadaan padi, terkadang sekaligus membawa bekal makanan untuk para santri yang membantu di sawah, begitulah cara beliau berinteraksi dengan santrinya. Dari situlah akan membentuk sinergi pengabdian yang lebih kuat.

Kegiatan keseharian di Pondok Pesantren Azziyadah cukup padat, sama halnya dengan pesantren lain. Kegiatan bertani dimulai dari pagi hari hingga dzuhur bagi santri yang tidak sekolah dan dari ba’da dzuhur hingga ashar bagi santri yang sekolah. Dan ba’da ashar, barulah masuk pada kegiatan mengaji sampai malam hari, sehingga kegiatan bertani tersebut tidak berpengaruh pada aktifitas mengaji. Justru para santri lebih bersemangat pergi ke sawah sebagai peluang mencari barokah.

Kang As selalu berpesan pada santrinya terutama alumni “sepira sibuke, shalat kudu direksa”. Karena sholat adalah hal yang paling utama, terlebih lagi, berjamaah. Maka dari itu, bagi para santri yang masih berada di sawah ketika telah memasuki waktu sholat,  mereka tidak menjadikannya sebagai kendala, para santri mencari tempat yang suci untuk berjamaah dan mencari air bersih seperti di sungai untuk mandi dan berwudhu. Adapun sejadahnya, biasanya memakai daun pisang, koran, karung yang bersih, ataupun baju.

Pesantren menjadi wadah paling berkontribusi untuk menyaring efek negatif globalisasi, karena jika kita terlena akan berdampak pada pudarnya karakter generasi muda. Pesantren isinya bukan hanya mengaji kitab kuning, namun lebih dididik untuk ngaji rasa, dilatih dalam memandang segala hal dari sudut pandang yang jernih, ditempa dengan merasakan hidup prihatin, yang mana tujuannya satu,  yaitu mencari barakah kyai dengan keikhlasan hati.

Mencari barokah dilakukan dengan variasi yang berbeda di setiap pesantren, dan salah satunya di Pondok Pesantren Azziyadah yakni rutinitas bertani yang bertujuan untuk melatih fisik dan mental para santri, agar ketika lulus sudah memiliki keahlian dibidang pertanian dan kelak apapun profesinya, mereka tidak akan kaget karena di sini telah ditempa menjadi pribadi tangguh dengan beraktivitas di bawah terik matahari.

Pp Azziyadah Pp Babakan Ciwaringin

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. H. MUHAEMIN, M.Ag

Assalamu'alaikum Wr.Wb Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT beserta Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah memberikan karunia dan…

Selengkapnya