MAN 2 CIREBON

Jalan Merdeka No. 1 Desa Babakan Ciwaringin Cirebon

MANTAP KEREN UNGGUL (MANKU)

Cerita Sedekah Bumi di Kongsijaya Oleh: Hannida Rizqia Alfaini, XII IBB 2

Selasa, 24 Oktober 2017 ~ Oleh humas9 ~ Dilihat 218 Kali

 

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terkenal dengan keanekaragaman dan keunikannya. Terdiri dari berbagai suku bangsa,  masing-masing suku bangsa memiliki keanekaragaman seni budaya tersendiri, disetiap budaya tersebut terdapat  nilai-nilai sosial  yang tinggi.

Adat budaya Indonesia yang dulu kaya akan seni budayanya kini mulai tergerus oleh era globalisasi, perkembangan era globalisasi ini amatlah pesat sehingga berdampak pada moral akhlak tata pergaulan anak remaja. Namun masih ada beberapa daerah  di pulau Jawa yang masih mempertahankan tradisi budaya leluhurnya tersebut, khususnya di daerah Kongsijaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu yang masih mempertahankan tradisi lokal Sedekah Bumi.

Sedekah Bumi adalah upacara tradisional yang diselenggarakan di tiap-tiap desa, menjelang para petani akan mengerjakan sawahnya. Biasanya berlangsung di penghujung musim kemarau dan menjelang  musim hujan, di sekitar bulan September/Muharam/Sura.

Sesuai dengan namanya Sedekah  yaitu selametan  menyambut datangnya musim penghujan, yang diselanggarakan di balai desa dengan menanggap wayang yang mengambil cerita khusus yaitu Bumi Loka. Bumi Loka adalah tokoh yang menurut ceritera Ki Dalang ialah putra Prabu Natakawaca.

Adapun Syahdan  Seorang Raja yang sakti mandraguna,  Prabu Natakawaca namanya. Sang Prabu jatuh cinta kepada bidadari di Suralaya bernama Dewi Supraba. Berhubung dengan itu Prabu Natakawaca bertekad hendak naik ke Suralaya untuk melamar Dewi Supraba kepada Batara Guru, namum lamarannya ditolak oleh Dewa.

Prabu Natakawaca amat murka, dan ia pun mengamuk di Suralaya menantang semua Dewa untuk berprerang. Tantangan Prabu Natakawaca ternyata tidak sia-sia, sebab seemua dewa tidak ada yang sanggup mengalahkannya.

Keadaan di Suralaya menjadi porak-poranda karena diamuk  oleh Prabu Natakawaca yang sangat sakti itu, sehingga Dewa Guru sangat prihatin. Untuk mengatasi keadaan yang sangat gawat  itu Dewa Guru segera mengutus Batara Narada turun ke Maypada menjumpai Arjuna dipanggil menghadap ke Suralaya untuk dimintai bantuannya menghadapi Prabu Natakawaca.

Setibanya di Suralaya Arjuna memang melihat suasana yang menyedihkan, maka ia pun segera menemui Prabu Natakawaca, sehingga pertempuran tidak bisa dielakkan lagi. Pertempuran berlangsung hebat sekali, karena kedua-duanya sama-sama sakti. Namun demikian Arjuna kelihatan lebih unggul dari lawannya. Pada suatu kesempatan yang baik Arjuna dengan tangkasnya menusuk Prabu Natakawaca dengan keris Pancaroba sehingga mati.

Dengan meninggalnya Prabu Natakawaca itu keadaan di Suralaya aman kembali seperti sedia kala. Namun demikian persoalannya tidak selesai sampai disitu saja, karena putra Prabu  Natakawaca bernama Bumi Loka menuntut balas Arjuna atas kematian ayahnya.

Maka Negara Amarta diserangnya sehingga semua tanah di Amarta kering pecah-pecah. Rakyat Amarta sangat menderita, jangankan hendak mengerjakan sawah dan ladang, untuk minum saja amat susah. Sekali lagi Arjuna yang mengetahui hal itu segera mencari Bumi-Loka dan membunuhnya dalam suatu pertempuran yang hebat.

Berhubung dengan matinya Bumi Loka maka hujan pun turun. Dengan demikian keadaan tanah yang selama ini pecah-pecah dan gersang kini menjadi subur kembali. Keadaan itu dipergunakan oleh rakyat Amarta untuk mulai menanam padi.

Sesungguhnya, “Menjaga dan melestarikan suatu budaya lebih sulit dibandingkan membuat sebuah kebudayaan baru”, kita cenderung lebih tertarik terhadap penemuan baru karena dianggap lebih menarik, keren, dan kekinian.

Tergantikan oleh budaya baru nan modern dan tidak lagi mengandung unsur-unsur kebudayaan lokal yang kental akan budi luhur dan keagamaan, dan kerukunan bermasyarakat, ditambah munculnya dampak negatif yang bertolak belakang dengan trasdisi luhur di masa lampau.

Generasi muda masa kini cenderung tidak tertarik  terhadap tradisi lokal, mereka beranggapan upacara atau ritual tersebut adalah hal yang kuno, karena pola pikir mereka sudah terpengaruh dampak negatif dari globalisasi. Jika hal tersebut dibiarkan dan tidak ada upaya pengenalan pada generasi muda, kesadaran untuk  berpartisipasi melestarikan budaya tersebut akan punah dan hilang.

Tugas kita sebagai generasi muda ialah menjaga dan melestarikan tradisi lokal yang ada di Indonesia, khususnya tradisi lokal yang berada di kota atau daerah masing-masing. Dengan keikutsertaan generasi muda dalam perayaan atau upacara tradisi lokal, selain dapat mengenal dan menambah pengetahuan tentang budaya daerah. Kita juga dapat menanamkan rasa cinta terhadap kearifan budaya lokal daerah.

 

 

Sedekah Bumi Di Kongsijaya

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. H. MUHAEMIN, M.Ag

Assalamu'alaikum Wr.Wb Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT beserta Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah memberikan karunia dan…

Selengkapnya