MAN 2 CIREBON

Jalan Merdeka No. 1 Desa Babakan Ciwaringin Cirebon

MANTAP KEREN UNGGUL (MANKU)

Rumah Adat di Pemukiman Padat Oleh: Faya Malinda Ramadhanty XII IBB 2

Rabu, 25 Oktober 2017 ~ Oleh humas9 ~ Dilihat 208 Kali

 

Di Indonesia terdapat banyak rumah adat, dari Sabang sampai Merauke banyak sekali macamnya. Dari yang terkenal sampai yang tersembunyi, dari yang terawat dan juga tidak. Hampir setiap provinsi memiliki rumah adat, yang mempunyai keunikan dan ciri khas dari daerahnya masing-masing. Di Kabupaten Majalengka letaknya di Desa Panjalin Kidul Kecamatan Sumberjaya terdapat rumah adat yang sudah tua terletak  di tengah-tengah penduduk yang bisa dibilang begitu padat.

Disana masih berdiri rumah adat, walaupun ada bagian-bagian yang sudah direnovasi. Sampai saat ini tidak sedikit masyarakat yang tahu bahwa ada rumah adat yang menjadi asal-usul terbentuknya desa mereka. Rumah adat ini digempit rumah-rumah warga. Peran pemerintah desa yang begitu menjaga kelestarian dan agar tidak termakan oleh zaman. Pemerintah desa berupaya menjaga rumah adat dengan membenahi halaman, dan pagar dari rumah adat, agar terlihat bagus dan menjadikannya terlihat terawat.

Sejarah mencatat bahwa, Ki Ageng Gempol dan Nyi Gedeng Talaga mempunyai putra yaitu Rd.Sanata. Setalah dewasa dikirimkanlah Rd.Sanata kepada eyangnya Tuan Riana atau Buyut Pagar Gunung untuk mencari ilmu pengetahuan dunia dan ilmu pengetahuan akhirat. Lalu Buyut Pagar Gunung memanggil Rd.Sanata untuk membuat rakit dan turun ke hulu. Tuan Riana menyampaikan amanatnya sebagai ijazah terakhir dalam mencari ilmu, yaitu bertapa diatas rakit dan apabila menemukan wanita sedang mencuci beras dipinggir sungai maka itu adalah jodohmu.

Selanjutnya berangkatlah Rd.Sanata menuju sungai. Akhirnya rakit itu berhenti dipinggir sebelah barat pakuwon. Disaat yang bersamaan di pinggir sungai ada wanita cantik. Wanita tersebut bernama  Seruni. Ia merasa terkejut akhirnya berteriak, kemudian terbangunlah Rd.Sanata dari bertapaannya, lalu mendekati dan mengejarnya sampai ke rumahnya.

Lalu Rd.Sanata menyampaikan keinginannya pada Buyut Atas Angin untuk menikahi Seruni. Buyut Atas Angin menyetujui namun memberikan syarat bahwa membangun rumah tangga harus mempunyai sandang, pangan, dan papan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, harus membabad hutan rotan dahulu. Rd. Sanata menyanggupinya. Selanjutnya langsung keluar untuk melaksanakannya menuju barat merupakan hutan rimba dan ilalang serta rotan. Rd. Sanatapun akhirnya tidak kuat, dan kebingungan, mau menyampaikan bahwa beliau tidak mampu tetapi rasa malu ada, bila dipaksakan malah celaka.

Beliau berfikir lalu pulang ke Buyut Pagar Gunung dan menyampaikan ketidakberdayaannya, tanpa disadari Rd. Banjar yang merupakan adik seperguruan tergugah hatinya untuk membantu kakaknya. Walau berat, Buyut Pagar Gunung akhrinya merestui Rd. Banjar dan memberi Rd. Sanata bekal korek api dan koja. Kujang dan topi tokok untuk Rd.Banjar.

Setelah membabad kurang lebih 460Ha dengan kujang saktinya, Rd, Sanata teringat korek api lalu menggunakannya dan membakar hutan rotan. Sampai membumi hanguskan hutan rotan serta rumah Buyut Bolot. Melihat rumahnya terbakar, Buyut Bolotpun mengejar Rd. Sanata dan Rd. Banjar. Dan Buyut Bolot hanya ingin dibangunkan kembali tempat tinggalnya.

Dan selanjutnya Rd. Sanata beserta Nyi Seruni mendirikan rumah di titik tengah hutan yang sekarang terbakar disebut Rumah Adat Panjalin terletak di Dukuh Tengah. Dari peristiwa sejarah inilah akhirnya ‘Rumah Adat Panjalin’ dijadikan tempat keramat oleh anak cucunya dan diakui oleh pemerintah untuk dilestarikan Sebagai bukti autentik dari perjuangan yang pernah dilakukan dalam membuka lahan.

Di samping pintu masuk rumah adat ada bertuliskan aksara jawa yang memiliki arti dalam Bahasa Indonesia ‘Menghilangkan Peninggalan Berarti Hillanglah Keturunan’. Rumah Adat Panjalin ini sudah terdaftar dalam Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang berpusat di Banten.

Masyarakat, pemuda, dan pemerintah sudah berusaha untuk menjaga dan melestarikan Rumah Adat Panjalin ini. Dengan cara membukukan cerita sejarah Rumah Adat Panjalin agar tidak hilang begitu saja, karena jika hanya dari mulut kemulut itu bisa punah termakan oleh zaman. Dan juga menjaga rumah adat agar tetap asri dan bersih.

Faktor pendorong dalam melestarikan rumah adat ini sudah saya katakan seperti yang diatas. Dan faktor pengahambatnya pada pihak yang memiliki wewenang yang kurang perhatian pada rumah adat ini.

Kita harus terus memperkenalkan kepada anak-anak, remaja, ataupun pemuda yang belum mengetahui tentang rumah adat. Bagaimana pun kita tidak bisa memprediksi masa depan. Khawatirnya, rumah adat terbengkalai karena tidak ada yang menjaganya.

Sebagai masyarakat lokal maupun pendatang wajib ikut menjaga dan melestarikan rumah adat. Bagaimana tidak, rumah adat ini ialah asal-usul terbentuknya desa yang ditempati mereka hingga saat ini dihuni ribuan jiwa.

Rumah Adat Panjalin

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. H. MUHAEMIN, M.Ag

Assalamu'alaikum Wr.Wb Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT beserta Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah memberikan karunia dan…

Selengkapnya